Sabtu, 12 November 2011

Cara Pemberian Air Susu Ibu (ASI)


Pemberian ASI secara eksklusif ini dianjurkan untuk jangka waktu setidaknya selama 4 bulan, tetapi bila mungkin sampai 6 bulan. Setelah bayi berumur 6 bulan, ia harus mulai diperkenalkan dengan makanan  padat, sedangkan ASI dapat diberikan sampai bayi berusia 2 tahun atau bahkan lebih dari 2 tahun. Para ahli menemukan bahwa manfaat ASI sangat meningkat bila bayi hanya diberi ASI saja selama 6 bulan pertama kehidupannya. Peningkatan ini sesuai dengan lamanya pemberian ASI eksklusif serta lamanya pemberian ASI bersama-sama dengan makanan padat setelah bayi berumur 6 bulan. Begitu pula dengan perawatan payudara yang baik, ibu tidak perlu khawatir bentuk payudaranya akan  berubah sehingga kurang menarik. Juga dengan perawatan payudara yang baik puting  susu tidak lecet sewaktu dihisap bayi
(Danuatmaja, 2003).

Hal-hal umum yang perlu diketahui dalam pemberian ASI adalah:
-    ASI adalah minuman yang paling sesuai, bersih dan bebas kuman, bergizi dan murah untuk bayi
-    ASI merupakan hak setiap bayi untuk memperolehnya dan kewajiban setiap ibu untuk memberikannya,
-    ASI mengandung antibodi yang meningkatkan daya tahan tubuh bayi terhadap penyakit
-    Produksi ASI akan semakin banyak apabila bayi lebih sering menetek dan setiap kali dikosongkan. Untuk menjaga produksi ASI, apabila tidak memungkinkan untuk menyusui secara langsung, peras ASI dan kosongkan ASI secara berkala
-    Proses menyusui sangat baik untuk perkembangan jiwa dan hubungan batin antar ibu dan anak
-    Bagi ibu yang bekerja dan memberikan ASI selama masa cuti, tidak disarankan untuk melatih bayi minum dari botol terlalu dini (Depkes RI, 1997).

Menurut Roesli (2000), pemberian air susu ibu secara eksklusif (tanpa ada pemberian makanan lain) pada bayi usia antara nol bulan sampai enam bulan, akan mampu meningkatkan daya tahan tubuh bayi dan peningkatan daya kecerdasannya, karena ASI memang mengandung sekitar 2.000 zat makanan dan kolostrum, sehingga membuat anak memiliki daya tahan tubuh tinggi serta tumbuh secara sehat dan cerdas.

Menurut hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002-2003, didapati data jumlah pemberian ASI eksklusif pada bayi di bawah usia dua bulan hanya mencakup 64% dari total bayi yang ada. Persentase tersebut menurun seiring dengan bertambahnya usia  bayi, yakni, 46% pada bayi usia 2-3 bulan dan 14% pada bayi usia 4-5%, yang lebih memprihatinkan, 13% bayi di bawah dua bulan telah diberi susu formula dan satu dari tiga bayi usia 2-3 bulan telah diberi makanan tambahan. Jika bayi usia antara 0-6 bulan telah mendapat makanan tambahan, seperti susu formula, maka akan mengurangi zat kekebalan tubuh yang diperoleh dari ASI ibu, sehingga menurunkan daya tahan tubuh dan kecerdasannya (Roesli, 2000).

Ibu harus memberikan ASI secara eksklusif karena ASI mengandung zat antibodi yang aman dan tidak ditemukan dalam makanan lain sehingga mampu meningkatkan daya tahan tubuh dari tertularnya penyakit dan menumbuhkan sel-sel otak yang merangsang tingkat kecerdasan. Selain itu, penggunaan ASI secara eksklusif mampu menghemat pengeluaran anggaran pembelian susu formula yang saat ini harganya masih cukup mahal, mahalnya susu formula tersebut, di antaranya karena para produsen sekarang semakin berlomba untuk menjadikan produksinya mendekati dan menyamai khasiat ASI. Misalnya dengan penambahan unsur-unsur yang terdapat dalam ASI, seperti DHA yang menambah kecerdasan anak, dan lain-lainnya (Roesli, 2000).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar